Minggu, 30 November 2014

cerpen islami (kisah seorang tahfidz) 70% nonfiksi



MUTIARA SENJA
(Ketika Takdir Berkata)
by:amansyah
Tuhan...
Apakah hidup ini
Hanya bisa menerima
Apakah hidup ini
Hanya sebuah perputaran
Tuhan...
                                                            Jika garis hidup ku seperti
Bumi yang menerima
Hujan
Biarkan aku menjadi
Puisi...
Dan biarkanaku
 Hidup seribu tahun lagi
Selamanya…

            Kunang-kunang berkerlap-kerlip, bias cahaya bernaung  di langit malam ciptaan Tuhan yang kuasa untuk di syukuri oleh manusia. Suara binatang malam sahut-menyahut berbicara dengan bahasa yang di takdirkan oleh Allah, berbicara tentang kehidupan. Pohon-pohon diam membisu dilema malam. Burung Hantu bercerita kegerian menabur bias ketakutan. Garis-garis langit dihiasi awan-awan bersenandung dengan bintang, rembulan dan bima sakti.
            Embun malam sedikit tertumpah mengenai gadis tirus tetapi jelita ‘’Tuhan…malam ini aku merasa rasa hati keambiguan, dan ketika ku perhatikan keselarasan, kesosialan malam, aku sadar dunia ini tergantung pemahaman kita  menaggapinya setiap kejadian. Terimakasih engkau telah  mengizinkan nafas ini masih bercerita, amin…’’ do’a Ulfa ‘’Ulfa sayang kamu belum tidur nak’’ tanya Ibu Maria. Bunda Ulfa memeluk dari belakang membuat Ulfa terkejut ‘’Bunda, kenapa Bunda kesini, disini dingin, nanti sakit Bunda kambuh lagi’’ tutur Ulfa cemas. Kepala Ulfa di sandarkan ke pahu Ibu Maria. Ulfa tersenyum semanis-manisnya ‘’Tidak apa-apa sayang, aku perhatiin sedari tadi habis sholat mangrib kamu kelihatan resah?, apa ada masalah” tanya budanya, Ulfa tersenyum semanis-manisnya ‘’Tidak Bunda aku hanya bersyukur telah di berikan kenikmatan alam oleh Tuhan semesta alam. Suasana malam ini sangat aku rasakan begitu beda’’ jawab Ulfa gamang, tatapan mata menyapu keseluruh alam langit. Pelukan Ibu Maria melepas ‘’Bunda…’’ pikir Ulfa. Tiba-tiba pelukan bundanya hilang, hangatnya kedamaian. Ulfa membalikan badan ‘’Bunda…Bunda…bangun, kenapa Bunda? bangun…’’ ucap Ulfa  bingung ‘’Ayah…Ayah…Kak Arzzi…Dek Fina…kesini, Bunda’’ teraik Ulfa membahana di bumi Tanah Mirah. Badan Ulfa gemetar rumah itu riuh. Bapak Bakri berlari kalang kabut menuju taman mini depan rumah ‘’Ulfa kenapa Bunda mu, bagaiman Bunda mu bisa begini’’ tanya Pak Bakri, Ayah Ulfa. Ibu Maria di rangkul di bawa kedalam rumah. Arzzi dan Fina  mengikuti dari belakang, Fina menangis tersedu-sedu. Alur cerita ini terus mengalir di rumah sederhana nan asri di pandang mata, membuat manusia lupa bahwasanya dunia ini tempat persinggahan atau panggung sandiwara dan di akhiratlah manusia kan  bertanggung jawab.
            Tangisan pilu menyayat hati menggema di rumah Bapak Bakri. Lampu-lampu terang berderang, tetapi seluruh keluarga Bapak Bakri bercerita  pilu ’’Arzzi kenapa kamu menangis dhu?’’ tanya Nenek Syamiroh dengan hati di liputi sejuta pertanyaan ‘’Nek, Bunda’’ ucap Arzzi tak kuat ‘’Kenapa budamu’’ tanya Nenek Syamiroh bingung ‘’Nik, Bunda meninggalkan kita’’ ucap Arzzi sedih merundung pilu. Nenek Syamiroh menahan untuk menangis, menantu satu-satunya yang  merawat sejak dahulu sesudah ditinggalkan suaminya; Yusuf, Kini meninggalkannya ‘’Bakri sabar nak. Sabar nak, ini semua ujian dari Tuhan, dan setiap yang bernyawa kan kembali kepada-Nya. Ikhlaskan istrimu, pasti dia kan bahagia disana’’ saran ibunya ‘’Nak, cuma dengan mati semua perbuatan di dunia kan di jawab’’ saran ibunya.
Pemakaman Tanah Mirah
            Iringan jenazah melewati Pasar Tanah Mirah. Dekat pasar Tanah Mirah ada rumah sakit yang lumanyan berkualitas, setiap masyarakat Tanah Mirah kalau  ada yang sakit meriksakan di sana. Iring-ringan jenazah Ibu Maria kan di kebumikan di sebelah utara pasar Tanah Mira, melantunkan “laailaahaillalah laailaahaillalah laailaahaillalah Muhammadar Rasululah” menggema keseluruh alam Tanah Mirah. Lafad ini adalah sebuah menyaksian atau syarat manusia  masuk agama islam, yang di wahyukan kepada Nabi Mahammad SAW. Tuk disampaikan kepada umat seluruh alam (agama rahmatallillalamin). Doa-doa bersemayam di atas cakrawala ’’Bunda, maafkan Ulfa membuat Bunda pergi’’ kata Ulfa liriih, merasa bersalah.
            Matahari kian meranjak semakin berjalan menuju arah kiblat, arah semua umat muslim mengerjakan perintah Tuhannya (shalat). ‘’Bunda puisi ini kubuat untuk Bunda’’ ucap Ulfa sendu sedan

 Bermacam-macam duri
Menusuk ku…
Tapi engkau sapu dengan
Senyuman dan kesabaran
Bunda…
Aku tidak tau ketika kehilangan
Harapan di kehidupan ku
Mungkin aku akan seperti
Anak ayam
Bunda…
Do’a ku selalu ku untai
Menyertaimu…

puisi kesedihan itu membuat hati Bapak Bakri teriris-iris pedang menyisahkan luka mendalam.  ‘’Ulfa mari kita pulang’’ ajak Fendi sahabat Ulfa ‘’Tidak Di, kamu pulang duluan’’ bantah Ulfa.  Fendi pulang bersama pelayat, tinggal keluarga yang pilu ’’Ulfa mari kita pulang nak, Arzzi, Fina, mari kita pulang’’ ajak Bapak Bakri kepada buah hatinya dengan Ibu Maria, lima belas tahun lalu…
%%%
Hari berganti kisah-kisah untuk manusia mengambil pelajaran dari semua kejadian seperti pepatah mengatakan karna Cuma keledai yang mau jatuh kedua kali. Sedih senang sudah enam belas tahun umur Ulfa, Fina berumur sepuluh tahun, Arzzi berumur dua puluh tahun dan Bapak Bakri uban menghiasi di kepalanya petanda umur semakin pudar sebagai tanda penuaan. Angin menerpa wajah tirus Ulfa. Ulfa semenjak di tinggal bundanya Ulfa sakit-sakitan, Ulfa hanya di temani buku diary hitamnya. Bapak Bakri dan Arzzi menghampiri Ulfa ‘’Ulfa lihat apaan nak’’ tanya ayahnya di hiasi senyum mengembang ‘’Tidak Ayah’’ jawab Ulfa malas ‘’Ulfa ada yang Ayah katakan kepada kamu nak’’ kata ayahnya getir  ‘’Apa Ayah?’’ tanya Ulfa gamang ‘’Nak, Ayah dan Kakak mu, Arzzi mau kerja di Kediri, apakah kamu keberatan, jikalau Ulfa keberatan, Ayah dan Arzzi tidak akan pergi kesana’’ terang ayahnya ‘’Kapan Ayah, aku tidak keberatan’’ jawab Ulfa di paksakan ‘’Ayah mau berangkat besok nak’’ jawab Bapak Bakri getir ‘’Ayah Kediri daerah mana, apa dekat Gunung Kelud’’ tanya Ulfa kuatir takut gunung kan meletus ‘’Daerah Pare, mungkin dekat Gunung Kelud’’ papar Bapak Bakri, senyap di awan do’a Ulfa bermunajat memohon kepada Rob-Nya.

Yaallah…..antamaksudi…
Ampunilah dosa hamba ini,
Ampunilah  Dosa-dosa kedua
Orang tua ku, lindungi orang
Tua ku, dari mara bahaya
Lapangkan rezri halal Mu
Lindungi kakak ku dan
Semua keluargaku sabar
YaTuhan robbanaatina
Fiddunya hasanah
Wafilakhiroti hasanah
Wakina adabannar amin…

            Burung pipit mengepakkan sayap-sayap berkerlap-kerlip, berformasi bima sakti. Gerimis pagi hari menyapa bersama kedinginan. Ulfa duduk di teras rumahnya mengingat masa lalu ketika bundanya tersayang meningal dan di waktu ayah dan kakaknya merantau untuk satu muara ke Kediri Jawa Timur. Ulfa dirumahnya bersama adik dan nenek tersayang. ‘’Assalamualaikum’’ salam Fendi membuyarkan lamunan Ulfa ‘’Waalaikumsalam’’ jawab Ulfa bahagia, ketika tau laki-laki tampan berkulit hitam manis datang ‘’Kamu Fendi, ada apa Fendi hujan-hujan kesini, kan bisa besok, penting sekali ea?’’ Tanya Ulfa heran ‘’Sini duduk Fen’’ ajak Ulfa dan Fendi duduk agak jauh takut terjadi fitnah, pandangan matanya tertunduk takut syetan menggoda darah mudanya  ‘’Ada apa Fen, ada masalah’’ imbuh Ulfa bingung kepada sahabat karibnya ‘’Tidak Ulfa, tetapi ada yang aku mau bicarakan sama kamu’’ pinta Fendi gugup dan resah bercampur aduk ‘’kamu tidak ingin melanjutkan pendidikan mu Fa’’ tanya Fendi. Ulfa sudah lulus SMP Negeri Tanah Merah dan Fendi pun jua. ‘’Tidak, maaf kan aku Fen, aku tidak bisa, keluarga ku seperti ini, kamu mau melanjutkan dimana?’’ ucap Ulfa ‘’Aku mau mondok’’ jawab fendi ‘’Ooo…kamu mau mondok di pesantren Miftahul Mubtadiin Pakong’’ tebak Ulfa. Garis-garis kesedihan menghiasi ‘’Ea, aku akan berangkat besok’’ ucap Fendi. Fendi mau mondok karna ilmu agamanya yang di milikinya merasa kurang, sedangkan ilmu agama adalah  ilmu yang kan menyelamatkan dunia dan akhirat sesuai hadis Nabi “Siapa saja berjalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”(HR. Muslim). Waktupun menari bersama hujan yang kian reda.

            Waktu terus berlalu mengisi ruang-ruang kehidupan. Bias-bias kerinduan menusuk relung hati. Setiap saat Ulfa mengerjakan pekerjaan rumah. Fina masih duduk di kelas lima SDN Kendaban Tanah Mirah. ‘’Fendi, kamu kenapa tidak menghubungi ku, nomer Hp ku tahun lalu sudah kukasih’’ pikir Ulfa. Bingung melayang di kejahuan bintang berasi-rasi. Keadaan sangat miris menimpa Ulfa yang sakit-sakitan, tiba-tiba Hp Nokia tipe 103 berdering SMS masuk.
Efendi : Assalamualaikum, apa kabar Ulfa, semoga baik-baik saja?
Ulfa : Wailaikumsalam, aku baik-baik saja, kamu bagaimana Fendi?
Efendi : Ea aku baik
Ulfa : Kapan kamu pulang dari pondok?
Efendi : Sudah empat belas hari, ada di rumah
            Ulfa menanyakan semua aktifitas Fendi di pondoknya baik kesibukannya
            Ulfa : Fendi aku mau cerita   
            Efendi : Apa Ulfa?
            Ulfa : Tapi jangan ketawa, ini serius!!!
            Efendi : Apa Fa, ea aku tidak akan ketawa apalagi me……!!!
Ulfa : Apa…? Fen, ini serius sekali
Efendi : Tidak ada apa-apa, apa Fa? ea aku tidak akan menertawakan mu
Ulfa : Aku ingin sekali menghafalkan alqur an, tapi aku tidak tau caranya,
takut salah niatnya Fendi
Efendi : Alhamdulillah, aku kagum sekali sama kamu, tidak mondok tapi mau
jadi hafidz, jangan putus semangat, caranya gampang sekali, kamu harus    
konsisten, pepatah arab mengatakan Istikomah lebih baik dari pada seribu karomah
Ulfa : Makasih saranya, kamu mau balik kapan ke pondok?
Efendi : Insaalloh besok, o…ea sekarang kamu sudah hafal berapa  surat?
Ulfa : Aku jujur sekarang
Efendi : Jadi tadi itu yang kita bicarakan bohong dong!!!
Ulfa : Tidak, jangan bercanda, aku sudah hafal surat yasin, waqiah, al-muluk dan surat pendek juz
am’ma
Efendi : Aku kagum sekali sama kamu
Ulfa : Makasih, tapi aku sering sakit, kamu kan tau sendiri Fen, semenjak bunda meninggal, semua
pekerjaan rumah beralih ke pada ku,  sedangkan Dek Fina masih kecil
Efendi : Sabar Ulfa, orang sabar itu bersama Allah, ingat Fa, sabar itu pahit seperti empedu tapi buahnya manis seperti madu, orang sabar bersama Tuhan
Ulfa : Ea, makasih Fendi semua nasehat mu akan aku genggam, aku sebenarnya sakit…….tidak…
Efendi : kamu sakit apa Ulfa?
Ulfa : Tidak biar waktu yang menjawab
Efendi : Ea, tidak apa-apa, jika lebih baik, mungkin alasanmu menyimpan lebih baik
Ulfa : Ea, maaf Fendi
Efendi : Udah Fa, aku mau kemas-kemas, assalamualaikum
Ulfa : Waalaikumsalam
Ulfa memutuskan jalinan Hpnya, Ulfa merebahkan tubuh tirusnya dan mengambil buku diary hitamnya. Mencatat semua cerita hidup pahit manis. Waktupun berevolusi.
%%%
            Suara riuh bergemuruh di pondok Mifatahul Mubtadiin Pakong. Suasana pondok menggugah hati. Matahari pagi menyinari pondok Miftahul Mubtadiin “Apa kabar Fendi, kamu tambah tembem aja” sapa Mu’in memuji. Muin adalah teman Fendi di pondok tapi tidak sekamar “Alhadulillah baik Mu’in, kamu baik” jawab dan sapa Fendi, Mu’in  hanya mengangguk “Mu’in, kamu kan ikut tahfidz, di rumah  ada teman ku, katanya dia mau menjadi hafidiz, tapi dia tidak mondok, keinginan ku ingin sekali membelikan dia al-qur an al-hidayah, supaya dia gampang untuk menghafalnya, apakah kamu ingin ke Surabaya?” ungkap Fendi “Aku sangat mendukung temanmu itu Fendi, salam buat dia, ia aku sekarang mau ke Surabaya sama Ustad Umar tuk membeli buku, begini Fen, harga al-qur an al-hidayah lima puluh ribu, kita patungan, biar nanam modal ke akhirat” kata Mu’in gembira “Makasih Mu’in” ucap Fendi.

            Matahari terus berputar dan berputar. Angin panas menyapa fatamorgana di cakrawala “Fendi ini al-qur annya” ucap Mu’in sambil menyodorkan, Fendi yang sedang duduk di tempat santai “Terimakasih sekali, nanti sore aku mau pulang ada sesuatu keperluan yang penting sekali, plus aku mau memberi al-qur an ini” papar Fendi girang.

Hati berbunga-bunga bagai anak bertemu dengan ibunya “Assalamualaikum” salam Fendi di rumah Ulfa “Waalaikumsalam, kamu Fen, ada apa kamu kok pulang, bukannya tadi pagi berangkat, kenapa kembali lagi?” Ulfa kagum dan heran “Ini al-qur an untuk mu” kata Fendi dan menyedorkan bungkusan kado terbalut, tatapan mata ter tunduk takut terjadi apa-apa, apa lagi bagi santri, godaan terbesar adalah wanita “Tidak Fendi jangan repot-repot” sanggah Ulfa “Tidak apa-apa, ini aku beli khusus untuk mu, dan ada salam dari teman ku, Mu’in” ucap Fendi. Fendi sangat berterimah kasih kepada Mu’in. bau bunga melati dirumah Ulfa menusuk hidung tak kala mentari berubah menjadi api besar dan mirah di ufuk barat.
%%%
Kisah seseorang kadang putih, kadang hitam dan putih abu-abu menimpa, supaya menjadi lebih dewasa dan mengambil pelajaran. Di langit terang bederang sang surya di halangi awan-awan mengililingi. Ulfa tidur di kamar mungilnya dan Hp nokia bordering
Efendi : Assalamualaikum
Ulfa : Waalaikumsalam
Efendi : Bagaiman kabarmu Fa?
Ulfa : Syukur aku haturkan kepada Tuhan yang telah memberi nikmat kepadaku, aku baik, kamu bagaimana?
Efendi : Tuhan masih rela menyelimuti hamba lemah ini dengan sejuta nikmat sehat dan sempat kepadaku, aku sehat, tak sedikitpun Tuhan mengurangi tetesan-tetesan embun pagi kepada ku
Efendi : Bagaimana hafalan qur annya, sudah berapa juz?
Ulfa : Tidak banyak cuma juz  tiga puluh dan juz satu, Fendi kamu harus tau ketika aku memakai al-qur an pemberianmu, aku merasa cepat hafal, makasih
 Efendi : Ea amin. Besok aku balik ke pondok, cuma dua hari disini, udah ea
Ulfa mengambil buku diariynya dan jemari-jemarinya menari-nari di atas kertas.
%%%
            Suara adzan berkumandang di masjid jamik Mubtadiin menggema ke seluruh desa Pakong. Para sanrti sudah sedari tadi berada di masjid menunggu waktu mahrib tiba, sambil melantunkan ayat-ayat suci al-qur an, iktikaf dan  merojaah hafalan bagi yang ikut tahfidz juz amma. “Fendi, Fendi ada yang mencari mu” ucap salah satu santri yang datang, yang tak lain Mastur teman sekamarnya “Siapa?” tanya Fendi tenang “Tidak tau tapi katanya penting sekali” timpal Mastur. Fendi keluar dari masjid dan menuju ke pondok yang berjarak 100 meter dari pesantren Mubtadiin. “Assalamualaikum” salam Fendi dan dijawab bapak paroh baya “Begini nak, aku mau cerita dulu, aku orang tua Ulfa, aku pulang dari Kediri hari rabu sebab di kediri Gunung kelud lagi aktif, seluruh penduduk disuruh mengungsi, termasuk aku dan anakku Arzzi. Kesini aku mau menjemput mu, Ulfa sedang sakit sekarang di rawat di Pukesmas Tanah Merah, nak kamu di suruh datang kesana” terang ayahnya Ulfa. Fendi minta izin kepengurus pondok tapi susahnya minta ampun. Fendi duduk manis di kantor bawah pesantren bersama ketua pondok dan wakil pondok “Ustad aku minta izin, mau pulang” minta Fendi gugup “Ada apa Fen” tanya ketua pondok, Faiz “Anu Tad, aku di jemput sama tetangga, dia ingin aku pulang karna anak beliau sakit ingin bertemu dengan ku” papar Fendi kesal. Tapi setelah benegosiasi Fendi di izinkan, Fendi adalah salah satu crew oasis yang mahir berbicara. Preode pertama menjadi staf redaksi bagian cerpen tapi di pindah menjadi reporter.
%%%
Rumah Sakit Tanah Merah Bangkalan    

Bau rumah sakit Tanah Mirah Bangkalan seperti bau orang mati, seram di pandang mata dan dikenag. Hawa panas menyapu semua rumah sakit, menyelimuti dengan penuh rahasia-rahasia. “Ulfa” pekik Fendi “Fendi” desis hati Ulfa “Kamu kenapa Fa, mana janji mu, katanya mau menghafal al-qur an sampai hatam” ucap Fendi nanar “Fen ini buku diary ku, aku dulu berjanji aku tidak akan memberi izin membaca, kecuali suami ku, tapi aku tidak kuat, tolong jaga buku diary ku ini, kamu bisa membuat novel ceritaku ini, maaf kan aku Fen” ucap Ulfa terbata-bata dan tersendat-sendat. Mata itu tertutup pelan-pelan di hiasi senyuman manis nan menawan hati. “Fa, bangun, kita akan bersama mejalani kehidupan ini, kita akan halal membangun rumah tangga mawaddah warohmah” teriak Fendi sambil memegang buku diary. Pilu menyelimuti, mutiara  yang dulu terang benderang, kini menjadi mutiara senja redup tampa kemilau. Fendi menangis, Fendi sadar semunya akan kembali kepada sang pencipta. Fendi duduk selonjor dan membaca buku diary Ulfa…


07-03-2014 tanah Merah

Did diary semua cobaan telah aku lalui dan aku alami, aku hadapi dengan nada dan nadi ketegaran. Kematian seseorang yang aku sangat mencitainya, bunda tersayang, membut aku terpukul, apalagi aku sakit-sakitan, tidak tau harus bagaimana?. Dulu aku pada saat berumur 10 tahu dan adik ku Fina berumur 5 tahun, kakakku Arzzi 15 tahun, harus hidup tampa seorang ibu, aku pun menjadi yatim, aku bingung aku hanya bisa menerima, waktu itu aku mulai mengerti arti hidup tampa seorang ibu…mungkin aku anak yang takkan melupankan jasa ibu kepadaku, ketika aku melihat ibu memperjuangkan hidup dan membahagiakan, aku tau arti senyuman, arti kesederhanaa, arti perjuangan, arti kehidupan dan aku terus menerima…………………………ketika takdir berkata kepadaku….
Maria Ulfa
Gadis penyakitan  

15-07-2014 tanah Mirah

 Biarlah lara serangkai
Syair berkilah
Hati dan jiwa meninabobokan
Tak terhempit rasa gersang
                                                                                Hati dan jiwa teralur
Di darah putih
Kehausan naluri mengharap
Setetes embun
Embun di ujung senja
Aku harapkan
Walau hati dan jiwa
 merasa berhentu
YaaTuhan apakah hidup ini harus sendiri, mungkin benar. Tuhan setelah kembalinya bunda ke padamu, setelah itu ayah dan kakak Arzzi meninggalkan aku bekerja di Kediri, aku di Kendaban Tanah Merah bersama Nenek dan adikku Fina, aku bingung, apa lagi aku sakit-sakitan dan lebih menyakitkan lagi teman dekatku mondok, dia namanya Efendi, dia baik, perhatian, aku merasa ada rasa lain di kalbu ku, tapi aku tepis semua hasrat dari asa yang lemah tampa cinta…
Maria Ulfa
Gadis penyakitan

 24-12-2014Tanah Mirah

Zat pemberi segalanya…
Bunga-bunga kata-Mu
Kini kuselami bersama ciptaan-Mu
Zat pemberi segalanya...
Elok dan rupawan
 Aku rasakan dan
Begitu lezat aku cicipi
Syukur dan hamdalah
  Ku untai setiap getaran
Nafas ini...
Semua apa yang terjadi atau fenomena alam dan hukum rosalita, termasuk jodoh, umur, dan rizki sudah di tulis oleh Allah di lauhil mahfudz. Aku sekarang berharap dan mengharap semoga umur ku panjang, aku ingin menjadi hafidz  dan aku sangat bahagia seseorang yang aku kagumi memberi motivasi yang tak kusangka-sangka dan tak ku duga-duga, aku bahagia sekali terutama pemberian al-qur an al-hidayah sangat bangga. Maafkan aku Fendi kamu sering menanyakan prihal penyakitku, aku tidak bisa memberi tahu mu, apalagi menulis di buku diary, aku takkan menulisnya, dan semua keluargaku tidak ada yang tahu kecuali bundaku, tapi dia sudah di panggil oleh Allah. Maafkan aku aku harus pergi……
Maria Ulfa
Gadis penyakitan